Kegagalan Apple, yang dikenal sebagai Project Titan, sebagian besar disebabkan Dari ambisi mereka yang terlalu liar. Foto: dok Inside EV
“Sebelum Apple berhenti Membuat mobilnya, kami Menyediakan perhatian khusus kepada para Pemakai Apple,” ujarnya, sebuah sindiran tajam yang disambut riuh.
Beberapa Di Setelahnya Itu, “bom” kedua diledakkan: Xiaomi Mengintroduksi telah Memperoleh lebih Bersama 289.000 pesanan Untuk SUV barunya hanya Di satu jam.
Ini bukan lagi sekadar peluncuran produk. Xiaomi, perusahaan yang lebih dikenal Bersama smartphone hingga air purifier, telah berhasil melakukan apa yang gagal dilakukan Dari perusahaan paling bernilai Hingga dunia.
Pertanyaannya kini bukan lagi “apakah” mereka berhasil, tetapi “bagaimana” mereka melakukannya? Jawabannya adalah sebuah resep yang terdiri Bersama pragmatisme, pembajakan talenta agresif, dan pelajaran pahit Bersama masa lalu.
Mimpi ‘Bulan’ Apple vs. Langkah ‘Bumi’ Xiaomi
Kegagalan Apple, yang dikenal sebagai “Project Titan”, sebagian besar disebabkan Dari ambisi mereka yang terlalu liar. Mereka tidak hanya ingin membuat Kendaraan Pribadi Elektrik; mereka ingin menciptakan sebuah lompatan kuantum—Kendaraan Pribadi yang sepenuhnya otonom (Level 5) Sebelum awal.
Tujuan yang terus berubah dan terlalu tinggi ini membuat mereka menghabiskan satu dekade tanpa satu pun produk yang bisa ditunjukkan.
Hingga sisi lain, Lei Jun, 55 tahun, Memutuskan pendekatan yang jauh lebih membumi. Ia mempertaruhkan reputasi pribadinya, menyebut proyek Kendaraan Pribadi ini sebagai “proyek wirausaha terakhirnya”. Alih-alih bermimpi, ia belajar.
Artikel ini disadur –> sindonews.com Indonesia News: Kisah Rp160 Triliun Apple yang Lenyap & Resep Sukses Xiaomi Kuasai Pasar Kendaraan Pribadi Elektrik











