– Memilih keluar Didalam hubungan yang tidak sehat bukanlah akhir Didalam sebuah perjuangan, melainkan awal Didalam perjalanan panjang Sebagai membangun kembali kehidupan.
Pesan itulah yang diangkat Di Sinema drama keluarga Beautiful Pain Ke special screening Hingga CGV 23 Paskal Bandung.
Sinema produksi Dapur Sinema ini mengikuti perjalanan Niken, seorang ibu yang Membahas keputusan besar Untuk masa Di dirinya dan anak-anaknya Sesudah memutuskan bercerai.
Akan Tetapi, alih-alih hanya menyoroti sisi orang dewasa, Beautiful Pain juga membuka ruang Untuk penonton Sebagai melihat sisi yang kerap luput Didalam perbincangan publik soal perceraian: bagaimana anak-anak ikut menanggung dampaknya.
Sisi itu diwakili Dari karakter Naia, anak sulung Niken, yang diperankan Dari Anantya Kirana. Di sesi special screening Hingga Bandung, Anantya hadir langsung menyapa penonton dan berbagi kesan Sesudah mendalami perannya.
“Aku banyak belajar Didalam memerankan Naia Hingga Sinema ini,” ujarnya. “Sinema Beautiful Pain Menunjukkan bahwa Di perceraian, ternyata anak-anak juga menjadi korban.
Dan perjalanan Naia Sebagai Menyaksikan hidup barunya sangat inspiratif bagiku. Terima kasih Sebagai semua yang sudah Menyaksikan perjuangan keluarga Niken,” tuturnya kepada penonton yang hadir, Senin (19/10/2026).
Di kesempatan terpisah Pada ditemui awak media, Anantya mengungkapkan proses mendalami karakter Naia yang menurutnya tidak mudah. Ia mengaku sempat kesulitan Pada pertama kali membaca naskah, mengingat beban emosional yang dipikul tokoh yang diperankannya.
“Ya pasti sih lumayan sulit ya waktu aku baca skripnya, Sebab kan memang lumayan berat ya Naia ini. Dia korban Didalam perceraian orang tuanya, terus juga dia struggle sama posisi dia yang tadinya enak terus Dari Sebab Itu enggak enak,” katanya.
Sebagai membangun pendalaman karakter, Anantya menjelaskan bahwa proses persiapan dilakukan Melewati pembacaan naskah atau reading berulang kali bersama sutradara Hanung Bramantyo dan seluruh pemeran.
“Caranya reading kita semuanya beberapa kali, dibantu sama Om Hanung terus sutradaranya, terus juga semua cast-nya juga kita ngobrol-ngobrol banyak sampai akhirnya Dari Sebab Itu Sinema ini,” jelasnya.
Proses syuting Sinema ini sendiri diketahui telah berlangsung Di tiga tahun lalu Didalam durasi pengambilan gambar kurang lebih 18 hari.
Lebih jauh, Anantya juga menitipkan pesan khusus Untuk anak-anak yang tumbuh Di Situasi keluarga berpisah atau broken home. Ia berharap mereka tetap semangat menjalani hidup, perlahan belajar berdamai Didalam keadaan, dan Ke akhirnya mampu Menyaksikan situasi yang terjadi tanpa harus kehilangan arah.
Pesan ini menjadi salah satu benang merah penting Didalam Sinema, bahwa proses penerimaan anak Di perpisahan orang tua membutuhkan waktu dan Pemberian, bukan sesuatu yang bisa dipaksakan selesai begitu saja.
Selain Sebagai anak-anak, Anantya turut menyampaikan pesan Untuk kalangan perempuan yang Bisa Jadi Di Berjuang Didalam situasi serupa Didalam yang dialami karakter Niken Di Sinema. (*)
Menurutnya, pesan utama yang ingin disampaikan adalah pentingnya keberanian Sebagai bersuara dan tetap kuat Berjuang Didalam keadaan.
“Yang pasti buat selalu kuat, berani buat bersuara, dan ya itu sih, berani buat bersuara sih nomor satu,” ucapnya Pada ditanya soal pesan yang ingin disampaikan filmnya.
Ia berharap, lewat kisah Niken, para perempuan yang Di berjuang Di hubungan yang tidak sehat dapat menemukan keberanian Sebagai bersuara dan Membahas langkah keluar Didalam permasalahan yang dihadapi.
Ke akhirnya, Beautiful Pain Menampilkan kisah yang tidak sekadar berbicara soal kehilangan, tetapi juga tentang kesempatan Sebagai memulai kembali.
Sinema ini mengingatkan bahwa setiap orang, baik orang tua maupun anak, Memperoleh proses dan ritmenya sendiri Di Berjuang Didalam perubahan besar Di hidup.
Keberanian Sebagai melangkah pergi Didalam sesuatu yang tidak sehat, menurut pesan yang diusung Sinema ini, justru dapat menjadi titik awal Sebagai menemukan kembali jati diri yang sempat hilang.
Sinema yang diproduseri Dari Hanung Bramantyo ini dibintangi Dari sejumlah nama, Hingga antaranya Raihaanun, Baim Wong, Tarra Budiman, Jajang C. Noer, Siti Fauziah, Dimas Aditya, Anantya Kirana, Evano Zyan, dan Nikita Mirzani.
Beautiful Pain membawa cerita tentang keluarga, luka, dan keberanian Sebagai memulai Putaran Mutakhir kehidupan.
Kehadiran Anantya Di rangkaian special screening Hingga berbagai kota, termasuk Bandung, menjadi Pada penting Didalam upaya membawa pesan Sinema ini lebih Didekat Hingga penonton, khususnya generasi muda yang Bisa Jadi Memperoleh Pengalaman Hidup serupa Didalam Naia.
Lewat Komitmen langsung semacam ini, penonton tidak hanya Menyaksikan cerita Hingga layar, tetapi juga Menyaksikan gambaran lebih utuh tentang proses kreatif dan nilai yang ingin disampaikan Hingga balik produksi Sinema tersebut.
Permasalahan perceraian dan dampaknya Di anak memang bukan topik Mutakhir Di perfilman Indonesia, Akan Tetapi Beautiful Pain mencoba menghadirkannya Didalam sudut pandang yang lebih personal dan manusiawi, tanpa menghakimi pihak mana pun.
Melewati tokoh Niken dan Naia, Sinema ini mengajak penonton Sebagai memahami bahwa Penyembuhan Didalam sebuah perpisahan bukan proses yang instan, melainkan perjalanan yang membutuhkan waktu, keberanian, dan Pemberian Didalam orang-orang terdekat.
Artikel ini disadur –> times.co.id Indonesia News: Luka yang Tak Terlihat: Kisah Anak Hingga Balik Perceraian Di Beautiful Pain